Kelamnya Perayaan Maulid

Segala sesuatu amalan yang kita lakukan dengan mengharapkan ganjaran atau balasan dari Allah seharusnyalah ditimbang dengan syariat dan tidak mengikuti kebanyakan manusia. Sesungguhnya Islam dibangun diatas dua prinsip:

1. Tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

2. Tidak boleh beribadah kecuali apabila sesuai dengan syariat dan sunnah Rosul, tidak boleh mengikuti hawa nafsu dan bidah/persangkaan manusia.

“Katakan (Muhammad) Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kepada selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim”. (Ali-‘Imran:64)

Diantara yang dijadikan hujjah tentang kelamnya maulid adalah sebagai berikut:

1. Merayakan maulid merupakan bid’ah yang diada-adakan yang tidak ada contohnya dari Nabi baik itu ucapan, perbuatan ataupun persetujuan (taqrir). dan sebaik-baik contoh adalah Rosulullah SAW.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Al Ahzab:21)

2. Para sahabat Nabi dan Khulafaur Rasyidin tidak pernah menhadakan maulid yang mereka merupakan sebaik-baik ummat setelah Nabi.

3. Perayaan maulid merupakan sunnah dari orang-orang yang menyimpang dan sesat yaitu Al Fathimiyah pada abad ke-4 H yang menisbatkan diri mereka kepada Fathimah Ra yang merupakan kezhaliman yang besar padahal mereka merupakan yahudi, majusi, mulhid, dan syiah. Dengan ini mereka ingin menarik perhatian kaum muslimin dengan mengadakan perayaan maulid yang sebelumnya mereka merayakan kematian Al Husain bin Ali Ra. Juga penisbatan maulid pertama kali kepada Shalahuddin juga merupakan kesalahan karena beliau hidup pada abad ke 6 H.

4. Allah telah telah menyempurnakan agama ini dan Nabi juga sudah menjelaskan semua yang haram dan halal.

…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu …(Al-Maidah:3)

5. Mengadakan maulid bisa dipahami bahwa Allah belum menyempurnakan agama dan mengadakan syariat sebagai pelengkap agama. Dan menganggap adanya bid’ah yang baik/hasanah dengan ini menuduh Nabi berkhianat dikarenakan ada yang belum disampaikan yaitu maulid.

6. Para ulama islam juga mengingkari perayaan maulid dan mengancam ummat muslim dari perayaan ini dengan hujjah dan dalil dari Qur’an maupun Sunnah.

7. Sesungguhnya perayaan maulid tidak mewujudkan kecitaan kita kepada Nabi, yang seharusnya kita ittiba dan taat.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali-Imran:31)

8. Mengadakan maulid nabi dan menjadikannya hari raya merupakan menyerupaan kepada kaum yahudi dan nashrani, sedangkan kita dilarang untuk mengikuti dan menyerupai mereka (tasyabuh). Natal = Maulid.

9. Ummat islam yang berakal tidak boleh tertipu oleh banyaknya orang yang merayakan maulid di banyak negara, sedangkan kebenaran harus diukur oleh dalil dan syariat.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (Al-An’am:116).

10. Dalam aqidah syar’iyah yaitu mengembalikan segala perselihan manusia kepada Quran dan Sunnah dan apa saja yang tidak dilakukan oleh nabi dan sahabat adalah bid’ah.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Annisa:59)

11. Sesungguhnya yang disyariatkan pada hari senin adalah untuk berpuasa. Hari senin adalah dimana Nabi dilahirkan, diutus dan menerima wahyu. Sedangkan pendapat yang rajih tentang lahirnya Nabi adalah tanggal 8 Rabiul Awal.

12. Perayaan maulid tidak lepas dari kerusakan dan kemungkaran yang mengikutinya. Sehingga banyak timbul bid’ah dan kesyirikan, ikhtilat, meninggalkan sholat, music dan lainnya.

Wallahu A’lam. (Sekelumit dari kajian Ust. Yazid Hafizhahullah, Bogor 16-03-08)

%d bloggers like this: